Pemuja Rahasia
Terdengar suara benda jatuh. Gadis berkerudung coklat itu menoleh ke belakang. Mata nya menyapu pandangan ke meja dan bangku. Ia lalu beringsut dan mengambil figura kertas yang jatuh. Lalu terdengar bunyi pesan sms masuk. "Zah lagi di mana?" Begitu bunyi pesan nya. Dari seseorang yang bernama Asmiyah. Gadis berkerudung coklat itu membalas. "Di kos" Begitu balasannya. Ia lalu meletakkan hape nya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketok.
"Fauzah aku mau minta tolong diajarin soal matematika diskrit", ujar Asmiyah. "Oh, gampang itu", sahut Fauzah. Mereka lalu belajar bersama. Lalu terdengar petir menyambar. "Mi kamu nginep sini aja, nemeni aku", ujar Fauzah. "Wah sori Zah, aku mau ada perlu nanti malem", sahut Asmiyah. Fauzah nyengir.
Asmiyah mengemasi buku buku nya. "Zah, aku pamit dulu ya. Makasih ya", ujar nya sambil berdiri. "Iya deh", Fauzah menyahut kalem. Sesaat setelah Asmiyah berlalu, Fauzah merebahkan badan nya ke kasur. Tiba-tiba terdengar benda jatuh. Fauzah bangun dan mencari cari sumber suara. Ia lalu memungut staples yang jatuh. Badan nya terasa gerah, karena itu ia memutuskan pergi mandi.
=======================
Kamar mandi di kos Fauzah letaknya di luar. Ada 5 kamar kos namun hanya dua yang dihuni. Kamar mandi ada 2 di dekat sumur. Fauzah pergi keluar membawa handuk, baju ganti, dan alat mandi. Lalu masuk ke kamar mandi. Terdengar bunyi air kran dialirkan. Lalu terdengar bunyi yang sangat keras dari arah luar kamar mandi. Fauzah mematikan kran. Ia memasang telinga nya. Namun suara itu tidak terdengar lagi. Ia lalu melanjutkan mandi.
Selesai mandi Fauzah kembali ke kamar nya. Saat dia mau membuka pintu terdengar seperti ada yang memukul mukul tembok. Namun karena bangunan kos Fauzah tidak memiliki pagar, ia tak bisa memeriksa bagian belakang kamarnya. Fauzah melanjutkan keperluannya di kamar. Selanjut nya dia merasakan kantuk yang sangat hebat. Tak terasa Fauzah pun tertidur.
=====================
"Aku di mana?", desis Fauzah. Tiba tiba dia berada di sebuah jalan. Suasananya gelap. Dia hanya bisa melihat jalan samar samar. Dia menoleh. Sepi. Lalu dia mencoba berjalan menyusuri jalan. Sesaat kemudian dia melihat seseorang berpakaian serba hitam di depannya. Fauzah mencoba memanggil orang itu. Namun yang mengherankan, suara nya tidak muncul. Tiba tiba Fauzah terbangun karena mendengar alarm hape nya bunyi. "Jam 3", sergah nya setelah terbangun.
Fauzah merasa heran. Barang barang nya berantakan. Padahal sebelum ketiduran tadi dia sudah merapikan nya. Ia lalu merapikan kembali barang barang nya. Ia lalu berdiri hendak mengambil hape. Namun tiba tiba ia terjatuh. Kaki nya terasa berat. Ia menoleh ke belakang dan melihat sepasang tangan hitam besar mencengkeram betis nya yang putih. Di belakang tangan hitam itu ada muka hitam menyeringai dengan gigi kecoklatan yang tidak rapih. Tangan hitam itu mencengkeram kuat. Fauzah lalu mencoba meraih piala kayu yang ada di depan nya. Tangan hitam itu semakin naik ke atas hingga Fauzah berhasil meraih piala kayu lalu memukul tangan hitam itu sekuat tenaga. Jantung nya berdegup kencang. Akhirnya Fauzah berhasil melepaskan kaki nya dari cengkeraman tangan hitam. Namun tangan hitam itu terus berusaha menarik ujung rok nya. Fauzah terus memukulkan piala kayu sekuat tenaga hingga tangan hitam itu menarik lepas rok nya lalu menghilang. Nafas nya terengah engah. Keringat dingin menetes. Fauzah merasa lemas lalu menangis tersedu sedu.
====================
Fauzah masih sesenggukan. "Wah angker kos mu tuh", sahut Asmiyah. "Baru beberapa hari ini Mi", ujar Fauzah. "Hmm ... Kamu mau gak kuajak ke tempat abang ku. Dia paham sama hal beginian", sahut Asmiyah. "Ya gak papa. Aku takut banget Mi, ngeri.", jawab Fauzah. "Ya udah ayok", ujar Asmiyah sambil menggandeng tangan Fauzah.
Rumah bang Hamid nampak sunyi. Asmiyah mengetok pintu. Lalu pintu terbuka. "Ayo masuk", ujar pria setengah baya dari dalam. Asmiyah dan Fauzah lalu salim sama pria itu. "Ini bang temen ku. Kata nya habis ketemu sama ...", ujar Asmiyah mau menjelaskan, tapi dicegat bang Hamid dengan isyarat telunjuk di bibir. "Mbak ayu ini diikuti pocong hitam", sahut bang Hamid. "Karena kamu menyimpan sesuatu yang disenengi makhluk itu", lanjut nya. "Apa itu bang?", tanya Fauzah. "Yo ndak tahu. Kamu bersabar aja. Nanti dia akan memberi tahu mu. Kalau kamu sudah tahu, buang sesuatu itu", jelas bang Hamid. Fauzah tertunduk lemas mendengar jawaban itu.
===============
"Mi", ujar Fauzah memanggil sahabat nya. "Apa?", Asmiyah menyahut sambil menyedot es jeruk. "Beberapa hari ini aku kok nggak mimpi aneh lagi ya? Tapi barang jatuh masih terus terjadi", jelas Fauzah. "Berarti sesuatu yang disukai makhluk itu ada di pakaian mu Zah", sahut Asmiyah. "Apa dong?", tanya Fauzah. Asmiyah mengangkat bahu nya. "Coba kamu inget inget. Saat kamu diserang makhluk itu kamu make baju apa, cd warna apa", ujar Asmiyah. Fauzah menggeleng.
==================
Fauzah mendapati kamar nya berantakan lagi. Namun kali ini dia memberanikan diri memahami apa yang terjadi. Satu satu nya benda yang tidak jatuh hanyalah piala kayu. Piala kayu yang berbahan kayu cendana itu di letakkan di atas lemari berisi dalaman. "Kalau makhluk itu menyukai pakaian dalam ku, kenapa sebenarnya?", ujar Fauzah dalam hati. Dia mulai merapikan lagi kamar nya dan membuka lemari berisi dalaman itu. Sesaat kemudian dia tertegun melihat bra dan cd bergambar tengkorak api. Dia mencoba mengingat ingat di mana dia beli kedua benda itu tapi dia tidak ingat. "Atau aku cuman dikasih ya. Tapi siapa?", ujar nya lagi dalam hati. Fauzah melanjutkan beres beres. Dia baru sadar, bahwa lemari berisi dalaman itu dilapisi dengan amplop surat berwarna coklat. Dibukanya amplop itu. Ada beberapa foto nya berpose dengan teman-teman SMU. Lalu ada secarik surat dengan gambar ... ya ... gambar tengkorak api. "I love you forever Fauzah" Begitu bunyi surat itu. Fauzah bingung. "Ini surat dari siapa?", ujar nya lagi dalam hati. Di dalam amplop itu ada plastik klip. Hal ini membuat nya yakin, pakaian dalam dan semua isi amplop itu berasal dari orang yang sama.
=================
Fauzah baru selesai mandi. Dia menyiapkan diri untuk menghadapi pocong hitam itu. Dia memakai pakaian dalam misterius yang ditemukannya tadi sore. Tak berapa lama dia mengantuk lalu tertidur.
Fauzah berada di jalan yang gelap dan sepi. Tak ada siapapun. Dia lalu mencoba menyusuri jalan itu. Dia lalu bertemu lagi sosok yang memakai pakaian serba hitam. Fauzah berteriak kepada sosok itu, namun suara nya tidak keluar. Sosok itu tak bergeming. Lalu dia menoleh. Tampaklah mukanya yang hitam dengan gigi kecoklatan yang tidak rapi. Fauzah kaget lalu terbangun. Dia bergegas meraih piala kayu. Belum sampai berhasil dia meraihnya, kaki nya kembali dicengkeram tangan hitam besar. Fauzah berusaha sekuat tenaga meraih piala kayu. Cengkeraman pocong hitam itu semakin kuat. Dengan diliputi ketakutan akhirnnya Fauzah berhasil meraih piala kayu dan memukul makhluk hitam itu sekuat tenaga dan berusaha menendang nya. Tangan hitam terus merangsek dan menarik rok nya. Di sisa tenaga nya Fauzah menghantamkan piala kayu ke tangan hitam sekuat kuat nya hingga tangan hitam itu menarik lepas rok nya lalu menghilang. Nafas nya terengah engah. Peluh dingin membasahi tubuh wanita ayu tersebut. Namun dia merasa lega. Rahasia pocong hitam sudah terungkap.
===================
"Akh akh akh", bang Hamid terkekeh mendengar penjelasan Fauzah. Asmiyah yang sedari tadi menyimak lalu menoleh. "Kamu disantet pemuja rahasia tuh", celetuk nya. "Bukan. Itu namanya pelet. Pemuja rahasia mencoba mengirim pelet dengan pakaian dalam yang sudah dipakaikan ritual sesat", ujar bang Hamid. "Namun ada kekuatan lain yang melindungi mu sehingga pocong hitam itu hanya bisa mengganggu mu tanpa bisa memperdaya mu", lanjut nya. "Iya bang. Aku udah paham. Sekarang mau kubakar barang barang laknat kiriman psikopat itu", sahut Fauzah.
=================
Api berkobar di tong sampah depan kos Fauzah. Dia membakar amplop, surat, plastik klip, foto foto, dan pakaian dalam bergambar tengkorak api. Sampai sekarang dia tidak tahu siapa yang mengirim barang barang itu.
2 tahun kemudian ...
"Selamat kawan kawan", ujar Fauzah dan Asmiyah sambil terkekeh. Mereka sudah wisuda sarjana. Tiba tiba saat lagi foto foto pakai kamera kakak nya Asmiyah, ada wisudawan berkacamata hitam mendatangi mereka. "Selamat ya Fauzah", ujar pria itu sambil mengulurkan tangan nya. "Iya terimakasih. Ini siapa ya kok bisa tahu nama ku?", sahut Fauzah. "Kamu lupa pada ku? Kita dulu temen SMU", sahut pria itu. "Oh Farras ya? Aku kok baru tahu kamu kuliah di sini", ujar Fauzah. "Nggak papa. Aku memang sempet cuti kuliah. Ya udah aku mau ngumpul sama fakultas ku dulu", tukas pria itu sambil mengelus cicin monel. Fauzah tersenyum lalu mengangguk. Pria itu berlalu. Fauzah tiba tiba menghentikan langkah nya. Dia menoleh ke arah pria yang asyik melambai ke arah teman teman nya. Ya Fauzah baru menyadari cincin monel yang dikenakan pria tadi ... bergambar tengkorak api.