Gadis Pencari Korek Api
Seorang lelaki muda nampak terlihat mendorong sepeda motor nya di jalan tepi hutan. Seperti nya sepeda motor itu kehabisan bensin. Lelaki muda itu nampak kelelahan. Sesekali dia berhenti menghela napas.
"Pweeeh!", sergah nya mengusir kelelahan. Langit semakin gelap dan senja menjelang. Tiba-tiba mata nya menangkap sesuatu nampak berdiri di pinggir jalan. Lelaki muda itu mengernyitkan dahi. "Orang atau ...", desis nya setengah bertanya. Ketika sudah dekat, dia menyadari bahwa yang berdiri sedari tadi adalah seorang perempuan. Badan nya kurus dan tinggi. Perempuan itu memakai baju yang seperti bekas terbakar.
"Mbak ngapain sendirian di pinggir hutan?", tanya lelaki muda itu seraya menepikan sepeda motor nya. Perempuan itu hanya diam. Muka nya tidak terlihat sebab dia menunduk membelakangi jalanan. "Mbak?", tanya nya lagi. Hening. Lalu terdengar suara lirih parau. "Opo kowe nduwe korek", begitu bunyi suara itu. "Korek api? Untuk apa mbak? Ayo ikut saya aja nyari penjual bensin", sahut lelaki muda itu. Hening. Tiba-tiba perempuan itu berbalik. Seketika muka nya terlihat. "Ngobong rai mu!", seru suara parau itu. Lelaki muda itu terperanjat. Di hadapannya terpampang sosok perempuan yang seluruh muka dan badan nya rusak terkena api. Jantung nya berdegup kencang. Lelaki muda itu mendadak refleks memutar kontak dan menstarter sepeda motor nya. Ajaib nya mesin nya menyala dan lelaki muda itu bergegas berlalu dengan rasa ketakutan dan penuh keheranan. "Tolongggg!", teriak lelaki muda itu di kejauhan.
=============================
"Di minum dulu teh nya", ujar perempuan berkerudung hijau. "Coba kamu cerita Farid. Apa yang terjadi", suara serak bapak tua yang duduk di dekat pintu menimpali. "Aku ketemu perempuan yang muka dan badannya habis kena api pak", sahut nya gemetar. "Di mana mas?", sahut perempuan berkerudung hijau. "Di dekat hutan mahoni", sahut nya. Bapak tua menghela napas. "Jangan-jangan itu Selasih", tukasnya. "Siapa Selasih pak?", sahut perempuan berkerudung hijau. "Farid, Anisa. Kalian tidak mengenal Selasih. Dia dulu kembang desa di Desa Pinggir.", ujar bapak tua. "Lalu kenapa arwah nya gentayangan pak?", tanya Anisa. Bapak tua hanya diam. Hening.
========================
Gadis berkerudung merah itu duduk bersimpuh di dalam langgar. Di hadapan nya ada Ustad Somad duduk bersila. Hening. "Mbak Arifah, sebenarnya tidak ada yang namanya hantu atau arwah penasaran. Yang mbak lihat kemarin itu hanya jin yang tinggal di hutan mahoni", ujar Ustad Somad. "Sebentar pak, saya coba minta Anisa kesini. Kemarin mas Farid, suaminya Anisa juga mengalami hal yang sama", sahut gadis berkerudung merah. "Farid anaknya pak Dullah?", tanya Ustad Somad. Arifah mengangguk. "Iya", sahutnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara seseorang memarkirkan sepeda motor di depan langgar. Ternyata Anisa yang datang. Setelah mengucap salam, dia duduk di sebelah Arifah. "Betul pak ustad, mas Farid melihat penampakan Selasih", jelas nya. "Muka dan badannya bekas terbakar hebat pak. Saya sudah cerita sama ibu. Dan ibu saya juga mengatakan itu arwah nya Selasih", ujar Arifah. Ustad Somad tersenyum. "Kalau begitu mari nanti petang kita sama-sama ke hutan mahoni. Kita usir baik-baik", lanjut nya.
========================
"Btw, Nis. Kamu tahu nggak udah berapa orang yang lewat hutan mahoni sesudah mas Farid dan aku?", tanya Arifah. "Nggak tahu Fah", sahut Anisa. "Aku udah menanyai sepuluh orang Nis. Kenapa hanya kami yang bisa melihat Selasih?", ujar Arifah dengan nada heran. Anisa hanya termenung. "Kamu kan akamsi Fah. Sebelum ini kamu pernah lihat Selasih?", tanya Anisa. "Iya", sahut Arifah. "Tapi aku cuman diem. Waktu aku lewat hutan mahoni sama temen-temen yang lain, ternyata mereka nggak bisa lihat", lanjutnya. "Kupikir aku indigo. Setelah kamu cerita soal mas Farid, akhirnya aku yakin aku bukan indigo", tukasnya.
========================
Di mobil yang dikemudikan Farid, ada Anisa, Arifah, Fuad, dan Ustad Somad. Farid sengaja ambil jalan memutar keluar Desa Pinggir supaya bisa melewati jalan hutan mahoni yang mengarah masuk desa. Farid mengemudi pelan-pelan. Semua orang menahan napas. Tiba-tiba mobil dihentikan. "Itu", ujar Farid. "Eh mana?", tanya Fuad sambil mengarahkan kamera. "Iya, di kanan jalan", sahut Arifah. Anisa celingak celinguk di sisi Farid. "Mana Fah?", tanya nya heran. "Pak Somad bisa lihat pak?", tanya nya lagi. "Tidak mbak", ujar Ustad Somad setengah heran. Semua orang kaget. Perempuan yang berdiri membelakangi jalan lalu berbalik. Mukanya tidak terlihat. Tiba-tiba ia sudah berdiri di kiri jalan. "Pindah ke sini dia", ujar Arifah. "Kita turun apa gimana?", tanya Farid. "Buka kaca Nis!", perintah nya. Kaca pintu di kiri Anisa turun. Farid memajukan mobil nya. Kini perempuan menyeramkan itu tepat di sisi kiri mobil. suasana hening. Lalu terdengar suara parau lirih. "Opo kowe nduwe korek" Semua orang bergidik saling pandang. Tiba-tiba mesin mobil mati. "Opo kowe nduwe korek", suara parau makin keras. Tiba-tiba mobil terdorong ke depan dengan keras. Semua orang hampir terjerembab. Farid berusaha menyalakan mesin. Lalu perempuan itu mendongak. Arifah berteriak dan menutup muka. Refleks Anisa menutup kaca mobil. Akhirnya mesin mobil menyala dan Farid langsung tancap gas.
==========================
"Begitu ceritanya". Suara Arifah memecah keheningan teras rumah pak Dullah. Di sana berkumpul pak Fauzan dan istri nya--orang tua Arifah, pak Dullah dan istri nya--orang tua Farid, Ustad Somad, Farid, Anisa, Arifah, dan Fuad. "Mohon maaf, saya tidak ingin mengungkit masa lalu. Namun untuk kebaikan bersama, apakah pak Dullah dan pak Fauzan mau berbagi cerita?", sahut Ustad Somad. "Kurasa kita baiknya mengakhiri kisah menyeramkan ini mas", ujar pak Fauzan sambil menatap pak Dullah. "Aku juga nggak ngerti Zan. Kenapa jadi keluarga ku ikut diteror", ujar pak Dullah sambil menunduk.
"Namanya Semboja. Simbok nya Selasih. Rumah nya tepat di belakang pohon mahoni besar di seberang kali. Di jalan masuk desa.", ujar pak Dullah memecah keheningan. "Semboja asli desa ini, tapi suaminya pergi sebelum huru hara 1965 dan tak pernah kembali. Bapaknya Selasih bukan warga sini, namanya Gafur", lanjutnya. "Jadi Selasih belum pernah bertemu ayah nya", lanjut nya lagi. "Setelah Selasih beranjak remaja, Semboja mengaku ingin menikah lagi. Ia lalu berhubungan dengan pria dari desa lain. Pria itu sering terlihat masuk ke rumah Semboja. Namun Semboja tak pernah terus terang siapa pria itu. Lalu terdengar selentingan kalau pria itu terlibat partai terlarang. Tentara pernah mencari pria tersebut lewat foto dan sempat bertemu Semboja.", lanjut nya lagi. Pak Dullah lalu menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Ia melanjutkan cerita nya. "Aku dan Fauzan dulu aktif di pemuda desa. Aku pernah mengajak beberapa pemuda menggerebek rumah Semboja. Aku bilang sama dia, kalau pria yang sering datang itu terlibat partai terlarang. Akan berbahaya bagi siapa saja kalau benar seperti itu. Maka aku suruh Semboja mengusir pria itu. Semboja hanya menangis. Pria itu merasa tersinggung. Kami malam itu tersulut emosi.", ujar pak Dullah. "Saat itu belum ada listrik. Kami menggrebek bawa obor. Di teras rumah Semboja aku dan Fauzan sempat mencoba menarik pria itu. Lalu terjadi dorong-dorongan. Semboja masuk ke dalam rumah melindungi Selasih. Tak sengaja obor yang ada di tangan ku terlempar dan membakar rumah Semboja.", lanjut nya sambil menahan air mata.
"Setelah api padam, kami mencoba mencari jasad Semboja dan Selasih. Namun jasad kedua nya habis dilalap api. Lalu kami merobohkan rumah Semboja. Pria itu melarikan diri malam itu dan tak pernah terlihat atau terdengar lagi", ujar pak Fauzan melanjutkan cerita. "Arwah Selasih mulai bergentayangan setelah kami menikah dan punya anak. Sejak kecil Arifah sudah melihat penampakan Selasih. Farid mungkin waktu kecil pernah melihat tapi karena lama diajak merantau ke kota sama mas Dullah, akhirnya baru sekarang melihat penampakan Selasih.", lanjut nya. "Jadi sekarang baiknya bagaimana?", tanya Farid. "Mungkin pak Dullah dan pak Fauzan pergi ke bekas rumah mak Semboja dan mendoakan arwah mereka supaya tenang", sahut Ustad Somad.
===================
Fuad sudah menyiapkan doa doa untuk dibaca saat membantu ayah nya--Ustad Somad untuk menenangkan arwah penasaran. Sementara Farid, Anisa, dan Arifah menyiapkan air kembang. Malam itu pak Dullah dan pak Fauzan mendatangi bekas rumah Semboja. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan terdengar suara kidung memecah kesunyian. "Ini kidung yang sering dinyanyikan Selasih waktu kecil", ujar pak Fauzan. "Opo kowe nduwe korek". Terdengar suara parau lirih. Semua orang terdiam. "Opo kowe nduwe korek". Suara parau terdengar semakin keras. Lalu terdengar suara tawa yang sangat nyaring. "Selasih kami datang untuk minta maaf. Tolong maafkan kami", teriak pak Dullah. Hening. Tiba tiba tampak ada sesosok perempuan berdiri di tengah reruntuhan. Terdengar lagi suara kidung. Lalu ada bola api menyambar ke arah pak Dullah dan pak Fauzan. Ustad Somad maju mencoba menghalangi bola api diiringi lantunan doa dari Fuad. Bola api menjauh lalu menyerang lagi. Ustad Somad sampai terpental. Bola api mengenai tubuh pak Dullah dan pak Fauzan. "Tolong ... tolong", teriak mereka. Farid dengan sigap menyiramkan air kembang ke tubuh ayah nya dan pak Fauzan. Anisa memapah pak Dullah menjauh. Arifah juga memapah pak Fauzan menjauh.
Suara ketawa semakin nyaring, hembusan angin semakin kencang. Bola api lalu hilang dan sekarang ada dua sosok perempuan berdiri di reruntuhan. Salah satu sosok itu menunjuk ke arah pak Dullah. "Biadab". Suara parau itu terdengar lagi. "Semboja ... Selasih ... maafkan kami", teriak pak Dullah meringis kesakitan. Ustad Somad dan Fuad masih membaca doa doa. Mendadak angin berhenti berhembus. Dua sosok perempuan itu menghilang. Bola api muncul lagi kali ini lebih besar. Farid bersiap menyiramkan air kembang. Lalu bola api meledak dan bara api nya mengenai muka pak Dullah dan pak Fauzan. Farid menyiramkan lagi air kembang. Angin berhembus lagi. Suara ketawa terdengar lagi. Lalu berangsur menghilang. Ustad Somad dan Fuad lalu membawa mereka semua pergi dari situ.
=========================
1 bulan kemudian ...
"Udah sebulan aku nggak lihat penampakan Selasih lagi.", ujar Arifah sambil menggigit tahu goreng. "Iya, mas Farid juga udah nggak", sahut Anisa. "Mungkin Selasih udah memaafkan ayah ayah kita", ujar nya sambil tersenyum. "Ya mudah mudahan aja. Eh ayah mertua mu udah baikan lukanya", sahut Arifah. "Iya udah. Ayah mu gimana", jawab Anisa. "Udah baikan", sahut Arifah. "Yuk ke pasar beli buah buahan. Kemarin ayah ku minta dibuatkan jus jambu", lanjut Arifah. "Ayok", sahut Anisa. Mereka lalu pergi boncengan pakai sepeda motor.
=====================
Di antara reruntuhan bekas rumah Semboja dan Selasih terlihat ada bara api yang menyala. Angin berhembus kencang. Terdengar suara kidung Selasih. "Opo kowe nduwe korek" suara parau terdengar lirih diiringi suara ketawa sayup sayup dan menghilang.